SMOL.id – Ormas terbesar Nahdlatul Ulama (NU) dinilai terlalu toleran (tasamuh), kritis, dan dinamis dalam menghadapi keterbukaan media baru.

Akibatnya sering dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Akibat terlalu tasamuh mendapat kritik dari kader Nadhliyyin sendiri dengan munculnya NU garis lurus dan sebagainya.

Demikian disampaikan Doktor Baru Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ke-322 Dr HM MUdhofi MAg dalam Ujian Promosi Terbuka di auditorium Pascasarjana, Jrakah Semarang, Senin (18/12).

Mudhofi yang merupakan Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo menyampaikan disertasi berjudul ”Pengarusutamaan Narasi Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah al-Nahḍiyyah di Era Media Baru ”.

Tim Penguji terdiri dari Ketua Prof. H Nizar MAg, Dr. Anasom M.Hum dan Dr Nasihun Amin MAg.

Dalam disertasinya, Mudhofi yang lahir di Wonosobo mengatakan, keterbukaan media baru telah menciptakan ruang baru bagi agama online yang disebut dengan agama online, agama siber, agama digital, atau agama virtual.

”Ruang baru ini telah memunculkan pertarungan mengenai narasi keagamaan. Dalam konteks ini, NU menghadirkan kontra narasi melalui pengarusutamaan narasi Aswaja al-Nahḍiyyah. “Jadi, disertasi ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah pokok, bagaimana mengarusutamakan narasi Aswaja al-Nahḍiyyah oleh NU melalui media baru,” ujarnya.

YouTube NU
Diakui Mudhofi, data penelitian diperoleh dari Situs NU Online, YouTube NU, dan media sosial NU dengan menggunakan teknik observasi dan dokumentasi online (data mining).

Data penelitian dianalisis dari perspektif mediatisasi agama dan pemikiran Islam.
Hasil analisis menunjukkan beberapa temuan penting: Pertama, NU telah memanfaatkan media baru dengan membangun sistem media baru multiplatform yang integratif, sebagai sarana pengarusutamaan narasi Aswaja al-Nahḍiyyah melalui kerangka mediatisasi keagamaan.

Kedua, NU menampilkan bentuk-bentuk narasi keagamaan yang moderat berdasarkan nilai-nilai tradisional, ajaran dan pemikiran Aswaja al-Nahḍiyyah. Narasi keagamaan moderat NU telah mendorong dialektika di kalangan netizen yang melibatkan berbagai sentimen narasi, ujarnya.

Ketiga, narasi Aswaja al-Nahḍiyyah sangat penting untuk dipromosikan dan diarusutamakan dalam kontestasi propaganda otoritas agama di ruang media baru, karena kehadiran narasi keagamaan yang moderat sangat diperlukan sebagai kekuatan penyeimbang di tengah maraknya penyebaran agama. konten yang tidak didasari ilmu agama yang memadai dan cenderung bernuansa provokatif, sehingga berpotensi menimbulkan banalisasi pesan-pesan keagamaan.

Pj Rektor UIN Walisongo Prof Dr Nizar MAg mengatakan hidup di dunia yang penuh idealisme tidak akan pernah ada habisnya.

”Harus diubah dari idealisme menjadi pragmatisme sesuai dengan kenyataan. “Yang bisa hidup dengan idealisme 100 persen hanya nabi dan malaikat,” ujarnya sambil tertawa.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *