asuransi perjalanan asuransi mobil terbaik asuransi mobil asuransi bni pendidikan asuransi kesehatan keluarga asuransi kesehatan kumpulan asuransi kesehatan nasional asuransi kesehatan pemerintah asuransi kesehatan untuk keluarga asuransi online asuransi pendidikan anak terbaik asuransi pendidikan bringin life investasi asuransi terbaik lembaga pendidikan asuransi indonesia makalah asuransi pendidikan

Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh

Posted on

infogtk.id – Sahabat Info GTK asumsi mengenai Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh dalam pemahaman kita bahwa siswa yang memiliki nilai rapor diatas 90 pasti langsung dijuluki sebagai bintang kelas, dan oleh karenanya dianggap pintar dalam segala hal. Tak berlebihan memang menjadi demikian, karena pada dasarnya nilai siswa yang tinggi adalah cerminan dari siswa tersebut yang memiliki tingkat kerajinan “akademis” diatas rata-rata siswa lainya.

Namun perlu di perhatikan dengan cara saksama, bahwa dalam proses transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta dididiknya itu tidak selalu menghasilkan keberhasilan luar biasa. Kadangkala ada siswa yang sudah diajari pelajaran mati-matian tapi tetap saja mendapatkan nilai dibawah rata-rata, atau bahkan mendapat nilai “nol”,. Jika kita mendapati siswa nilai “nol”, maka ada satu pertanyaan yang muncul dari pemikiran kita, itu siswanya memang “bodoh”, apa gurunya saja yang tidak “pandai mengajar” ?

Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh

Untuk menjawab pertanyaan yang cukup njlimet ini sebaiknya kita perlu mengkaji lebih dalam, apa sih sebenarnya kepintaran itu sendiri ?

Seorang ahli pendidikaan Benyamin Blom Anderson, pernah membagai aspek kecerdasan tingkatan dalam enam ranah yang kerap kali kita sebut sebagai Taksonomi Blom. Tingkatan pertama adalah mengingat, kedua menyebutkan, keempat mengurutkan, kelima menganalisis, dan keenam menciptakan yang semua keenam ranah itu di rumuskan dengan binominal (C1-C6).

Sementara jenis kecerdasan sendiri ada empat yaitu, kecerdasan cognitive, kecerdasan afektif, kecerdasan psikomotorik, dan kecerdasan spiritual. Empat kecerdasan ini masing-masing memiliki ranah pemikiran sendiri-sendiri. Kecerdasan kognitif biasanya berhubungan dengan kepintaran seseorang dalam mengolah angka, kalimat sistematis, dan analisis.

Sedangkan kecerdasan affektif biasanya berhubungan dengan kecerdasan dalam mengolah emosi dan spasial (gambar) contohnya orang yang memiliki kecerdasan efektif diatas rata-rata biasanya adalah gerombolan siswa yang memiliki kemampuan menggambar maupun melukis begitu epik, dan mampu bersikap baik dari gurunya. Kecerdasan psikomotorik biasanya berkaitan dengan kemampuan memfungsikan organ gerak.

Seperti pandai bermain bola, tenis, dlsb, sedangkan yang terakhir kecerdasan spiritual berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami dan menjalankan doktrin atau suatu ajaran agama. Siswa seperti ini juga biasanya pandai sekali membaca Tilawatil Quran.

Kembali kepertanyaan awal, apakah siswa yang memiliki nilai jelek itu bodoh ? Iya siswa tersebut kurang pintar dalam pelajaran yang ia sedang dipelajari dan berkaitan dengan ranah kognitif. Tapi bukan berarti siswa tersebut bisa kita cap seenaknya sebagai siswa yang sangat bodoh terhadap segala hal. Karena nilai jelek yang didapatkan siswa biasanya karena secara kognitif daya analisa dan pemahamannya kurang. Sedangkan kecerdasan lain seperti spiritual, emosional, maupun psikomotorik tidak bisa disamakan begitu saja dengan nilai jelek yang didapat di bangku sekolahan.

Sahabat Info GTK perlu kita ketahui bahwa sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum menjangkau pada penilaian objektif secara berimbang, penilaian umumnya cenderung pada aspek kognitif yang lebih mengutamakan daya analisa, hafalan, maupun operasi hitung. Sedangkan aspek psikomotorik hanya beberapa prosentase saja jumlahnya.

Ada semacam kegamangan dari para pendidik jika ada peserta didiknya yang diberikan nilai tinggi jika siswa tersebut mampu menunjukan sifat aktif di kelas. Baik sifat aktif dalam bentuk bertanya, maju didepan kelas, ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler, dan aspek psikomotor lain, cenderung dikesampingkan.

Sementara banyak sekali kita temui para pendidik memberikan nilai final di rapot dengan sangat tinggi, padahal siswa yang diberikan nilainya itu cenderung nakal, suka menghasut teman, dan tak bersikap sopan. Hanya karena siswa tersebut pandai sekali dalam hal kecerdasan kognitif guru terjebak pada distorsi keobjektifan empat aspek yang dihilangkan.

Demikian sahabat Info GTK persepsi tentang Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh yang dapat menjadi bahan perhatian bagi para pegiat pendidik.

Comments

comments

Gravatar Image
Internet Marketer - Praktisi Toko Online - Operator Dapodik Sekolah di SD Negeri Periuk 5 Kota Tangerang - Berbagi Informasi Melalui Wadah infogtk.id

Leave a Reply