asuransi perjalanan asuransi mobil terbaik asuransi mobil asuransi bni pendidikan asuransi kesehatan keluarga asuransi kesehatan kumpulan asuransi kesehatan nasional asuransi kesehatan pemerintah asuransi kesehatan untuk keluarga asuransi online asuransi pendidikan anak terbaik asuransi pendidikan bringin life investasi asuransi terbaik lembaga pendidikan asuransi indonesia makalah asuransi pendidikan

Malangnya Nasib Guru Yang Tak Pernah Berubah

Posted on

infogtk.id – Sahabat Info GTK Malangnya Nasib Guru yang Tak Pernah Berubah terus menjadi momok yang tak akan pernah habis dalam pemberitaan media. Sedikit cerita kali ini menggambarkan keaadaan guru di negara tercinta ini.

Kemarin saat saya pulang dari kegiatan magang di UPT Pendidikan Di suatu daerah, saya berjumpa dengan guru SMA saya, namanya Denok Triastuti. Kaget setengah mati ketika Bu Denok meminjam saya uang untuk menambal sepeda motornya yang pecah. Saya kemudian bertanya kenapa ibu tidak bawa uang, pertanyaan serampangan itu bukan berarti saya pelit, atau sinis.

Saya hanya memastikan apakah Bu Denok masih saja jadi guru honorer seperti dulu. Jawaban Bu Denok kemudian membuatku bergetar terbelalak. “Aku tidak punya uang banyak mas Lutfi, gajiku hanya cukup untuk memberi uang saku ke anak saya.” Begitulah jawaban Bu Denok. Aku lalu menanyakan “apa ibu masih honorer ?” Sudah kuduga sebelumnya Bu Denok akan menjawab pertanyaanku bahwa beliau besetatus masih sebagai guru honor. Dari aku kelas satu, sampai mau lulus kuliah kondisi Bu Denok tidak pernah berubah. Mendengar hal itu aku langsung memberikanya sejumlah uang lebih untuk membetulkan ban motornya yang bocor.

Sahabat Info GTK Miris memang, ditengah hiruk-pikuknya semangat memperingati perjuangan kepahlawanan di bulan November, baik itu diperingati oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Kota. Nasib guru honor tidak pernah berubah. Memangnya Pemerintah pernah sekali-kali mengupayakan guru honorer agar terlibat dalam proses transformasi sosial ?

Guru Sebagai Aktor Terciptanya Rerubahan Sosial

Malangnya Nasib Guru Yang Tak Pernah BerubahMasalahnya, apa urusannya guru dengan transformasi sosial? Waktu kita di kampus Fakultas Keguruan dulu, dan di berbagai lembaga penyelenggara pendidikan keguruan, saya tidak pernah mendapat motivasi bahwa guru harus sanggup menjadi problem solving atas segala permasalahan yang ada di masyarakat.

Padahal sejatinya, guru haruslah sanggup saling belajar bersama para peserta didiknya untuk memahami realitas-realitas yang ada di masyarakat. Atau dalam konteks kekinian: Paham dengan realita penindasan, serta segala bentuk krisis identitas, mencari akar permasalahan, dan membantu siswa menemukan kesadaran kritis terhadap masalah apa saja. Baik itu kemiskinan, penghisapan manusia atas manusia, perilaku koruptif, maupun diskriminasi sosial. Jangan sampailah ketika negara lain telah berhasil menumbangkan pemerintahannya yang dispotik, siswa kita masih saja menganggap bahwa kemiskinan itu terjadi karena takdir Tuhan yang bersifat given (alamiah).

Yang terjadi kemudian, boro-boro melakukan transformasi sosial, sampai kepada guru-guru kita masih jungkir balik untuk diarahkan memenuhi capaian utama pendidikan kita, baik itu melakukan segala upaya agar dapat mendongkrak nilai UN siswa (yang telah dihapus), agar supaya dapat lulus SNMPTN dan kemudian jadi dokter, serta segala capaian “tetek bengek” lainya. Sistem tersebut ternyata tidak mampu mengubah capian yang ada, walaupun sistemnya telah diubah sedemikian rupa.

Dengan capaian sistem pendidikan Indonesia yang begitu rapuh ini. Bagaimana mungkin guru-guru menjadi pengharap sebagai aktor terciptanya perubahan sosial? Mimpi, iya, walaupun sistem pendidikan Indonesia setiap hari melahirkan seorang Sarjana bahkan Proffesor. Tetapi sejak kapan sistem pendidikan Indonesia memberikan petuah bahwa kepintaran yang siswa miliki harus digunakan sebesar-besarnya untuk membantu rakyat yang tertindas. Memangnya seberapa sih guru yang bilang kekalian, “Nak, belajarlah dengan rajin, agar nanti ilmu yang kalian dapat bisa digunakan untuk menyelamatkan kaum tertindas.

Atau mungkin, “Nak, nilai UN itu tidaklah begitu penting-penting amat. Masyarakat tidak pernah akan menayakan nilai UN kalian, yang penting jika sudah besar, hiduplah bareng rakyat, petani, buruh, nelayan, atau kaum miskin kota, serta pakilah ilmu dan kekuatan yang kalian miliki untuk merangkul kekuatan sebesar-besarnya bersama kaum intelektual lain untuk membantu mereka keluar dari ketertindasan.

Aduh, sory, saya mulai bicara “ngalor-ngidul. Inikan di Indonesia, era generasi “kids jaman now” lagi. Saya sedang tidak lagi hidup di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, ketika para kaum pendidik mampu bersatu bersama rakyat, untuk melakukan pergerakan hingga titik darah penghabisan, meski hanya memiliki bambu runcing untuk mengusir penjajah.

Gimana saya berharap besar guru bisa jadi andalan kunci perubahan sosial, lha di kampus saja tidak pernah dapat mata kuliah ekonomi-politik yang pakai pendekatan berbasis relasi kuasa, tidak pernah dapat. Mata kuliah yang mempelajari diskursus sejarah perkembangan masyarakat-masyarakat di dunia yang bisa membuat peserta didik mengetahui bahwa masyarakat itu mampu memiliki daya untuk merombak sistem yang dispotik, juga tak dapat. Apalagi mata kuliah agar guru bisa sejahterah lahir batin, sudah pasti tidak dapat.

Pengabdian Untuk Sebuah Harapan

Malangnya Nasib Guru Yang Tak Pernah BerubahSetelah segala keluh kesah yang kurasakan pada Bu Denok, di Hari Guru kemarin, saya malah tak berani menuntut segala “tetek bengek” lainya berkaitan dengan capian guru.

Karena saya masih dapat melihat dengan mata yang waras, bahwa ada para guru honorer yang sudah mengabdi selama puluhan tahun, tapi tak kunjung juga mendapatkan kesejahteraan yang layak.

Masih banyak para guru yang meminta untuk disediakan media pengajaran yang layak. Masih banyak guru yang dipusingkan dengan urusan administrasi begitu rumitnya hanya sekedar untuk naik pangkat. Namun semua itu tak digubris oleh pemerintah setempat.

Karena saya semakin marah-marah melihat nasib guru yang tak kunjung membaik, biarkanlah saya untuk tidur. Barangkali setelah bangun tidur marahku menjadi hilang, dan ada perubahan dunia pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.

Demikianlah Sahabat Info GTK seolah Malangnya Nasib Guru yang Tak Pernah Berubah sudah menjadi penomena yang seolah tak pernah berkesudahan, semoga pemerintah lebih jauh memperhatikan kesejahteraan nasib para guru honorer.

Comments

comments

Gravatar Image
Internet Marketer - Praktisi Toko Online - Operator Dapodik Sekolah di SD Negeri Periuk 5 Kota Tangerang - Berbagi Informasi Melalui Wadah infogtk.id

Leave a Reply